Mulanya semua aku anggap biasa saja, namun semua ini mengantarkan aku kepada sebuah jalan baru. Sesuatu yang membuat aku dikata pengecut, aku tidak peduli. Bagiku, yang terpenting adalah bagaimana aku membuat kau bahagia.
Terkadang aku memang meninggalkan segalanya begitu saja, tidak terelakkan. Bersama senja seringkali aku larutkan segenap penat yang merasuki dada.
Tetapi asal kau tahu, ketika burung-burung beriringan, menyanyikan lagu bahagia, aku pun merindukan apa yang pernah ada antara aku, kamu, dia dan mereka. Biar bagaimana pun tetap saja aku masih manusia biasa, dengan keinginan biasa.
Dalam beberapa hal kamu benar, bahwa aku dapat melebihi manusia biasa. Namun pernahkan terfikir ketika aku berdiri menatap senja, saat mentari pagi menyapa hidupku.
Aku yakin kau tidak pernah memperdulikannya, sama halnya ketika semua rasa ini pernah mengabaikan kamu. Bertahun-tahun silam, ketika semua tentang perasaan ini masih pekat, kita saling berkilah tentang mimpi-mimpi manis kita. Kini aku mengerti, bahwa kalian telah mendapatkan apa yang kalian cari.
Seperti yang pernah kau katakan, "Sekarang giliran kamu."
Yah, ini giliranku. Kalian telah melangkah ke depan, seperti yang pernah kita katakan dahulu kala, bukankah mencoba dan berusaha adalah tugas kita. Dan aku belum melupakan tentang do'a, jadi tak usah kau risau tentang itu.
Ini aku, mengucapkan salam perpisahan pada mentari.
Selamat datang, malam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar