Minggu, 09 November 2014

Ketika Pertanyaan Tak Kunjung Terjawab

Wajah Gunung Kongbeng
Gunung Kongbeng - Kutai Timur - Kalimantan Timur
 Dalam setiap perjalanan hidup seseorang akan memiliki pertanyaan, setidaknya; bagamana caranya?

Namun apakah yang akan terjadi ketika beberapa pertanyaan tidak juga kunjung terjawab olehmu? Akankah kamu berfikir bahwa sudah waktunya perjalanan hidupmu berakhir? Mungkin sebagian memilih untuk kembali pada Tuhan dalam berbagai bentuk kembali itu sendiri. Akan tetapi bagaimana jika Tuhan saja tidak kau miliki?

Dalam beberapa hal manusia cenderung mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan pertanyaannya. Jalan pintas tersebut beragam pada setiap manusia itu sendiri.

Pada tulisan kali ini aku mencoba mengajak kamu untuk membicarakan beberapa hal menarik dalam otakku. Siapa tahu semua itu dapat membuatmu tertarik juga, semoga saja seperti itu.

Setelah lama tidak melakukan posting rasanya ini sudah waktunya aku membicarakan ini dengan dunia. Terutama ketika akhir-akhir ini aku bosan mendengarkan berita di televisi yang sepertinya hanya berisi soal manipulasi oponi publik. Siapa pun pihak yang sedang melakukan hal tersebut, memang begitulah fungsi media sosial. Terlepas dari semua itu, aku juga ingin ikutan pestanya, setidaknya ketika orang-orang mulai menemukan tulisan ini.

Dalam pembukaan ini aku ingin menyampaikan beberapa hal;
  1. Berfikirlah dengan bebas dan merdeka. Bagi penganut ajaran Islam silahkan membacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. (Bagaiamana bisa membaca sambil menyebut nama Tuhan?)
  2. Tulisan ini tidak bertujuan menghujat atau menghancurkan apalagi namanya mengadu domba. Saya hanya ingin mencurahkan isi hati, barang kali ada yang mau mendengar atau memberikan komentarnya. (Jadi saya tidak melayani perdebatan)
  3. Sebelum anda menghujat saya (karena tersinggung dengan tulisan saya) telusuri dulu kata ataupun pernyataan bergaris bawah.
  4. Semua tulisan ini bukan untuk mencari popularitas atau sensasi, murni berbagi dan bercerita saja.





Dalam tulisan ini saya akan membahas sesuatu yang disebut sebagai :

Nawamanunggal Nastitiningtyas

Dalam bahasa modern saya membaginya sebagai berikut;
  1. Asumsi-Sugesti-Persepsi
  2. Hukum-Norma-Adat
  3. Nasib-Takdir-Relativitas
Dalam hidup kebanyakan manusia menyikapi kehidupan dengan menggunakan Asumsi-nya, beberapa dari mereka menyikapi kehidupan dengan menggunakan Persepsi, tidak jarang dari mereka menggunakan Sugesti untuk menyikapi kehidupannya. Dengan demikian akan ada orang egois, bijak, dan follower. Kemudian muncullah kalimat yang mengatakan bahwa hidup harus punya prinsip seperti sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.

Diluar dari pada itu semua, pernahkah kita berfikir bahwa cara kita menghadapi kehidupan sebenarnya hanya menggunakan apa yang telah saya sebutkan tadi?

Relasi antara Asumsi-Persepsi-Sugesti akan membuat sebuah lingkaran tanpa henti selama kita tidak pernah mengindahkan Hukum-Norma-Adat. Karenanya mungkin beberapa dari kita sering mendengar sebuah petikan dari cerita pewayangan yang berbunyi;
Suradira jayadiningrat lebur dening pangastuti
Petikan itu terkadang diartikan bahwa kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan, namun pada frasa itu terdapat kata jayadiningrat yang mengindikasikan sesuatu yang melampaui batas. Jadi menurut saya selama kejahatan itu tidak melampaui batas maka ia akan baik-baik saja. Ada banyak kartel narkoba langgeng, banyak kelompok gengster berusia ratusan tahun. Bahkan banyak organisasi yang bergerak dibidang negatif bertahan lebih lama dari sebuah negara.

Terlebih lagi, ketika kebaikan itu tidak terorganisir maka ia akan dikalahkan oleh kejahatan. Hingga akhirnya seperti yang dikatakan Jayabaya dalam ramalannya. Bagi mereka yang berbuat baik semua seperti Janji Cinta Seorang Kekasih yang tidak kunjung datang.

Asumsi-Persepsi-Sugesti adalah proses belajar dari seorang manusia, tiga tahap yang akan menentukan apakah kita akan selamanya Kinanthi atau beranjak dewasa. Mengapa beranjak dewasa? Karena seseorang pernah mengatakan pada saya bahwa dewasa berarti mengenal konsep tanggungjawab. Sedang anak kecil (Kinanthi) tidak memperdulikan konsep tersebut. Kaitannya adalah dengan Utopia.

Lantas ada apa dengan Utopia, sehingga ia terkait dengan tiga fase belajar? Sebab Utopia adalah milik mereka yang memiliki jiwa anak-anak. Orang yang telah dewasa tidak akan mampu menciptakan Utopia, kecuali ia dapat memanipulasi alam bawah sadarnya untuk melupakan konsep tanggungjawab dan berbagai konsep salah benar. Dalam utopia tidak ada batasan dan keterbatasan, karena itu mereka yang telah dewasa tidak akan mampu membuat hal seperti itu.

Namun bukan berarti mereka yang memutuskan untuk dewasa benar-benar mutlak tidak dapat melakukannya. Hanya saja itu terlalu sulit untuk dilakukan, kebanyakan dari mereka yang telah dewasa telah kehilangan Asumsi dasar mereka. Karena sesunguhnya semenjak lahir kita telah memiliki Asumsi dasar.

Berlandasakan pada Asumsi-Presepsi-Sugesti saya sering mengatakan bahwa dalam hidup ini hal tersulit adalah mempertahankan (konsisten). Menjadi jawarah itu mudah saja, tetapi konsisten sebagai jawarah tidaklah mudah. Kau akan bertemu titik jenuh.

Selanjutnya, Asumsi juga memiliki berbagai bentuknya, salah satunya adalah sesuatu yang sering kita sebut sebagai Insting. Tetapi perlu diingat bahwa Insting adalah milik para binatang, lalu mengapa kita memiliki hal tersebut?

Tidak lain karena kita manusia, kita memiliki hampir semua yang dimiliki oleh berbagai mahluk yang ada dijagat raya ini. Bahkan ada sifat ketuhanan dalam diri kita, karenanya tidak jarang ada manusia yang memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan.

Makan adalah salah salah satu Insting yang ada dalam diri manusia, karenanya ketika kita tidak bisa mengendalikan makan, akan membuat kita semakin mendekati binatang. Bahkan seks pun merupakan insting, jadi ketika kita tidak dapat mengendalikannya akan membuat kita semakin mendekati binatang. Sehingga secara tidak langsung maka kita mendukung kebenaran teori evolusi.

Kendalikan Insting maka kita belajar memperbaiki Asumsi (Kacamata) kita dalam menyikapi kehidupan. Karena Persepsi dan Sugesti tidak dapat berdiri sendiri, sehingga lebih mudah untuk mengendalikannya.

Hal yang membuat kita berbeda dengan mahluk yang diciptakan lebih dahulu dari kita, bahkan membedakan kita dengan Malaikat dan Jin adalah Akal. Sebab kita bukan satu-satunya mahluk sadar yang diciptakan oleh Tuhan. Dan jelas kita tidak sendirian dijagat raya ini, sebuah jawaban yang sangat jelas tetapi masih terus dicari oleh kebanyakan orang.
Apakah kita sendiri dijagat raya ini?
Tentu saja tidak. Masih ada Jin yang juga menghuni jagat raya ini, meskipun ia diciptakan dengan alamnya sendiri. Tetapi layaknya manusia, ada juga dari mereka yang tidak mengikuti aturan yang telah diberikan.

Singkatnya, jika tulisan ini membingungkan, maka sudah seharusnya, sebab disini saya benar-benar ingin memastikan bahwa apa yang akan saya bicarakan pada posting selanjutnya memang layak dibicarakan di publik.

Rabu, 15 Oktober 2014

Adakah Esok Untuk Kita

"Setelah semua yang terjadi, masih adakah kenangan untuk kita pertanyakan saat esok tiba?"

Sebuah pertanyaan sederhana, kau ucap dengan senyum manis kala senja kita sambut bersama gelas-gelas kaca berisi kehangatan yang menyatukan kita. Di sekeliling banyak orang bertanya apa gerangan semua ini, namun aku memutuskan untuk membiarkan saja semua itu terjadi, aku tidak lagi peduli dengan semua itu ketika aku sedang bersamamu, menikmati senja ini dengan harapan bahwa kelak akan ada waktu dimana semua ini bukan sekedar mimpi belaka.

Dalam banyak hal aku merindukanmu, menginginkan bahwa suatu hari nanti akan ada waktu dimana semua ini adalah kenyataan yang bukan hanya fakta bagiku, tetapi bagimu dan mereka.

Aku sadar, bahwa apa yang pernah dikatakan oleh beberapa orang dekatku bahwa aku memiliki duniaku sendiri yang begitu aku tutup rapat adalah suatu kebenaran, bukan karena aku sakit jiwa, atau menderita kelainan jiwa. Namun pada beberapa sisi aku pernah memmbiarkan beberapa orang masuk dan menjelajah dunia itu, membuat mereka mempertanyakan lebih banyak hal dari pada apa yang pernah aku tanyakan.

Mungkin benar bahwa dalam beberapa hal aku melewati batas-batasan yang ada, namun ketika dipikirkan lagi semua itu memang sudah semestinya dan sewajarnya terjadi pada setiap manusia. Setiap manusia tercipta dan terlahir dengan keunikannya masing-masing, yang pada suatu sisi merupakan bukti bahwa kita terlahir dengan tugas kita masing-masing.

Aku memang bukan seorang Profesor atau ahli kitab, tetapi dalam hidup ini aku memiliki keyakinan dimana semua kehidupan ini memiliki tujuan dan arahnya yang menuju pada suatu tujuan universal. Untuk sekarang ini kau bisa saja menyalahkanku, tetapi kelak aku percaya kau akan memikirkan pertanyaanku juga.

Dari hati untukmu selalu...