Dalam tiap langkah aku pernah memikirkan kamu, merenungi mengapa setiap rasa ini seakan berakhir dan berujung padamu. Namun aku sadari bahwa semua itu memang tidaklah mudah untuk dapat aku pungkiri. Perlahan aku meninggalkan semua tentang kamu, memulai kehidupanku sendiri. Tanpa ada yang aku pedulikan lagi. Terus berlari dan meninggalkan semua keadaan, seringkali aku hanya diam sendiri. Berfikir tantangmu, dan masih selalu tentangmu. Belajar merelakan segenap harapan, membiarkannya memudar bersama angin yang perlahan menggerogoti tubuh letihku. Membuang mimpi menemukan kembali, walau janji berkata lebih dari. Semua hanya hiasan saja bagiku, tidak lebih dari kunang-kunang dalam gelapya kedalaman gua. Lebih dari gelap, sesak dan pengap.
Dan semua itu terjadi pada semua harap dan hasratku padamu. Sejauh itu kau begitu padaku, terlalukah aku padamu? atau memang semua itu maumu. Apa aku terlalu mengabaikan perasaanmu? mungkin?
Biarlah. Aku sudah lelah dengan semua ini, dan sekarang sudah waktunya aku menumpakan semua rasa ini. Biar saja jika menjadikan sesuari menjadi hamparan api. Toh sekarang ini tidak lagi ada yang akan mendengarnya, kecuali rumput yang bergoyang. Dan aku sudah pernah bertanya padanya. Bahkan jauh sebelum aku mengenalmu.
Tidaklah bijak kau tanyaakn itu padaku. Seharusnya engkau bertanya pada harimu sendiri.