Rabu, 20 November 2013

Ketika Relativitas Merengkuh Hati

"Semakin banyak membaca, bisa bikin orang jadi bingung. Apalagi kalau soal ideologi...." Ujar seorang pengunjung.
Dalam hati terasa kembali tentang fakta yang rasanya tidak mungkin terelakkan begitu saja. Ini bukan dunia yang dikata khayalan.
Jika dipertimbangkan kembali, pernahkah terpikirkan diri sendiri.
:coba tanyakan pada dirimu, mengenai apa yang kau yakini.

Sabtu, 27 Juli 2013

Sebelum Terjatuh

Mulanya semua aku anggap biasa saja, namun semua ini mengantarkan aku kepada sebuah jalan baru. Sesuatu yang membuat aku dikata pengecut, aku tidak peduli. Bagiku, yang terpenting adalah bagaimana aku membuat kau bahagia.

Terkadang aku memang meninggalkan segalanya begitu saja, tidak terelakkan. Bersama senja seringkali aku larutkan segenap penat yang merasuki dada.

Tetapi asal kau tahu, ketika burung-burung beriringan, menyanyikan lagu bahagia, aku pun merindukan apa yang pernah ada antara aku, kamu, dia dan mereka. Biar bagaimana pun tetap saja aku masih manusia biasa, dengan keinginan biasa.

Dalam beberapa hal kamu benar, bahwa aku dapat melebihi manusia biasa. Namun pernahkan terfikir ketika aku berdiri menatap senja, saat mentari pagi menyapa hidupku.

Aku yakin kau tidak pernah memperdulikannya, sama halnya ketika semua rasa ini pernah mengabaikan kamu. Bertahun-tahun silam, ketika semua tentang perasaan ini masih pekat, kita saling berkilah tentang mimpi-mimpi manis kita. Kini aku mengerti, bahwa kalian telah mendapatkan apa yang kalian cari.

Seperti yang pernah kau katakan, "Sekarang giliran kamu."

Yah, ini giliranku. Kalian telah melangkah ke depan, seperti yang pernah kita katakan dahulu kala, bukankah mencoba dan berusaha adalah tugas kita. Dan aku belum melupakan tentang do'a, jadi tak usah kau risau tentang itu.

Ini aku, mengucapkan salam perpisahan pada mentari. 

Selamat datang, malam.

   

Rabu, 20 Maret 2013

Bila Memang Perlu Sejauh Ini



Dalam tiap langkah aku pernah memikirkan kamu, merenungi mengapa setiap rasa ini seakan berakhir dan berujung padamu. Namun aku sadari bahwa semua itu memang tidaklah mudah untuk dapat aku pungkiri. Perlahan aku meninggalkan semua tentang kamu, memulai kehidupanku sendiri. Tanpa ada yang aku pedulikan lagi. Terus berlari dan meninggalkan semua keadaan, seringkali aku hanya diam sendiri. Berfikir tantangmu, dan masih selalu tentangmu. Belajar merelakan segenap harapan, membiarkannya memudar bersama angin yang perlahan menggerogoti tubuh letihku. Membuang mimpi menemukan kembali, walau janji berkata lebih dari. Semua hanya hiasan saja bagiku, tidak lebih dari kunang-kunang dalam gelapya kedalaman gua. Lebih dari gelap, sesak dan pengap.





Kini aku berfikir bahwa lebih baik aku mengosongkan tas ransel yang selalu aku bawa ini. Dari pada mengisinya dengan sesuatu yang pada akhirnya juga aku keluarkan tanpa membuatku mendapatkan apa yang aku mau. Memang benar, bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat kita dapatkan. Ada kalaya hasrat dan harap mendalammu pupus sebagai mimpi indah saja.

Dan semua itu terjadi pada semua harap dan hasratku padamu. Sejauh itu kau begitu padaku, terlalukah aku padamu? atau memang semua itu maumu. Apa aku terlalu mengabaikan perasaanmu? mungkin?

Biarlah. Aku sudah lelah dengan semua ini, dan sekarang sudah waktunya aku menumpakan semua rasa ini. Biar saja jika menjadikan sesuari menjadi hamparan api. Toh sekarang ini tidak lagi ada yang akan mendengarnya, kecuali rumput yang bergoyang. Dan aku sudah pernah bertanya padanya. Bahkan jauh sebelum aku mengenalmu.
Tidaklah bijak kau tanyaakn itu padaku. Seharusnya engkau bertanya pada harimu sendiri.